Rabu, 22 April 2015
Selasa, 21 April 2015
Mencari Teknologi Ramah Lingkungan
(SERI 1)
Salah
satu catatan dari Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNCCC) di Bali Desember
2007 lalu adalah keinginan negara-negara berkembang untuk mendapatkan transfer
teknologi ramah lingkungan guna ikut mensukseskan pengurangan emisi demi
mencegah pemanasan global. Negara-negara maju enggan mengabulkan permintaan
itu dengan alasan teknologi itu ada pada dunia bisnis yang investasi risetnya
telah dilindungi dengan hak paten. Karena itu, urusan transfer teknologi
adalah urusan bisnis dengan korporasi yang memilikinya.
Pertanyaannya
kini, apa saja yang termasuk teknologi ramah lingkungan, dan benarkah semua itu
urusan bisnis?
Teknologi
ramah lingkungan (eco-friendly-technology) dapat diringkas sebagai adalah
segala jenis aplikasi teknologi yang dapat memberikan kepuasan penggunanya
dengan sumber daya lingkungan yang lebih rendah. Sebelum kesadaran
ekologi muncul, orang hanya berpikir ekonomi. Teknologi yang diterapkan
adalah yang termurah dari sudut ekonomi, menggunakan sumberdaya alam maupun
sumber daya manusia yang murah walaupun dari sudut ekologi bisa saja dinilai
mahal. Hal ini karena sistem ekonomi masih jarang menilai lingkungan
dengan harga yang wajar. Misalnya, berapa nilai oksigen yang kita hirup
atau nilai lingkungan udara yang kita cemari dengan gas buang? Sebuah
mesin yang lebih banyak menyedot oksigen untuk hasil kerja yang sama, secara
ekologis adalah lebih mahal, walaupun secara ekonomis mungkin lebih
murah. Hal ini karena oksigen itu menjadi berkurang untuk digunakan oleh
mahluk hidup yang lain – termasuk manusia.
Secara
umum, teknologi ramah lingkungan adalah teknologi yang hemat sumberdaya
lingkungan (meliputi bahan baku material, energi dan ruang), dan karena itu
juga sedikit mengeluarkan limbah (baik padat, cair, gas, kebisingan maupun
radiasi) dan rendah risko menimbulkan bencana. Kita akan melihat contoh-contoh
teknologi ini pada fokus pengembangan iptek nasional:
Pangan
Pola
konsumsi paling ramah lingkungan adalah vegetarian. Dari bahan nabati
yang sama, bila dikonsumsi langsung, manusia mendapatkan tujuh kali lipat
nutrisi daripada jika bahan nabati itu digunakan untuk pakan ternak yang lalu
dikonsumsi dagingnya.
Dapur
modern yang rendah pemakaian energi (misalnya oven microwave) juga mestinya
lebih ramah lingkungan. Demikian juga lemari pendingin yang bebas
CFC. CFC adalah perusak lapisan ozon di atmosfir.
Masalah
pangan juga terkait erat dengan sampah. Makanan kemasan memang praktis,
tahan lama dan punya kelebihan dalam marketing. Namun banyak kemasan yang
sebenarnya berlebihan dan tidak ramah lingkungan.
Saat
ini sampah terbesar memang dari sektor pangan. Teknologi pengolah sampah,
baik dari sisi pemisahan, daur ulang dan penghancuran jelas sangat diperlukan
ketika volume sampah makin besar. Namun tentu lebih baik jika sampah ini
dapat dihindari dengan mengubah pola kemasan pangan ke wadah pakai ulang.
Dalam hal ini, teknologi bioproses untuk menghancurkan sampah dapat dipandang
lebih ramah lingkungan daripada teknologi kimia.
Bioteknologi
termasuk yang sangat diharapkan membantu menemukan bibit unggul tahan hama dan
kekeringan yang pada lahan yang sama dapat menghasilkan pangan lebih banyak
dalam waktu yang lebih singkat. Namun berbagai manipulasi transgenik
membuat ketakutan tersendiri akan munculnya spesies baru yang justru dalam jangka
panjang tidak ramah lingkungan. BERSAMBUNG......
(Dr. Fahmi Amhar, Peneliti
Utama Bakosurtanal)
Senin, 13 April 2015
Mencegah Pemanasan Global
Tanggal
3 hingga 14 Desember 2007 akan berlangsung konvensi / Pertemuan antar
pihak (Conference of Parties / Meeting of Parties) tingkat tinggi di
Bali yang diadakan oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
Pertemuan ini diharapkan dapat mengevaluasi Protokol Kyoto yang dibuat
tahun 1997, yang ditandatangani untuk mengurangi kadar CO2 guna mencegah
pemanasan global. Fenomena ini tidak bisa dilihat sesaat atau semusim
saja, tetapi harus dalam jangka yang lama, berpuluh tahun atau bahkan
berabad-abad.
Cuaca
adalah fenomena yang dapat bervariasi dari hari ke hari. Sedang tren
jangka panjang disebut iklim. Ketika tren ini berubah maka kita bicara
tentang perubahan iklim. Pada skala global, ini disebut Global Climate Change.
Sejak era industri, orang mencatat perubahan iklim ini. Efek ini
diduga akibat meningkatnya karbon dioksida (CO2) di atmosfir sebagai
dampak pembakaran hidrokarbon baik bahan bakar fossil, hutan maupun
sampah, sehingga sinar inframerah dari matahari lebih banyak
terperangkap di atmosfir. Karena efek semacam ini mirip yang dirasakan
di rumah-rumah kaca, maka disebut Efek Rumah Kaca (Greenhouse effect)
dan CO2 disebut juga ”gas rumah kaca” (Greenhouse-Gas/GHG). Dan karena
efeknya memanaskan secara global, maka disebut ”global warming”.
Karena
memerlukan riset jangka panjang seperti ini, maka sebagian orang masih
berbeda pendapat tentang dimensi efek global warming. Ada yang
menganggap efek ini akan dinetralisir oleh peningkatan reaktivitas
lautan secara alami.
Namun
mau tak mau kita tetap harus mempersiapkan diri. Masalahnya, salah
iklim tidak dapat diatasi dalam waktu singkat. Kalau kemarau panjang
terjadi, sedang lahan pertanian terlanjur ditanami dengan padi yang
sangat butuh air, maka akan terjadi krisis pangan. Karena itu memang
pemerintah perlu mengarahkan agar dunia pertanian mengantisipasi hal
itu. Ribuan kilometer sistem irigasi harus segera direvitalisasi.
Bibit padi yang disiapkan harus juga yang lebih tahan kekeringan.
Namun
di sisi lain, sistem pemantauan cuaca kita juga harus terus dibangun.
Jaringannya perlu diperpadat, komputernya dimodernisir dan SDM-nya
ditingkatkan profesionalitas dan kesejahteraannya. Sistem ini juga
harus diintegrasikan ke jaringan pemantau cuaca global, termasuk yang
berbasis satelit. Akurasinya harus ditingkatkan, agar ramalan iklim ini
memang prediksi yang ilmiah, bukan sekedar isu murahan yang
dimanfaatkan segelintir pengusaha untuk mendapatkan proyek pengadaan
beras impor atau justifikasi kebakaran hutan – yang sebenarnya telah
disengaja.
Sejak
masa pencatatan temperatur secara ilmiah dan teratur selama 100 tahun
terakhir, tercatat suhu bumi naik 0,75° C. Yang mencolok, setelah 1950,
tren kenaikan suhu terlihat cukup konsisten dengan sekitar 0,25° C per
dekade untuk daratan dan 0,13° C per dekade untuk lautan.
Dampak Pemanasan Global
Pemanasan global diduga keras akan berpengaruh dalam bentuk sebagai berikut:
- Es di kutub dan gunung-gunung tinggi mencair. Menurut perhitungan, hal ini menaikkan paras laut setinggi hingga 5 – 7 meter! Tentu saja kenaikan paras laut rata-rata ini harus diukur dari stasiun pasang surut yang stabil, tidak terjadi gempa atau penurunan muka tanah (land-subsidence).
- Kalau air laut naik, maka dataran rendah akan tergenang. Daerah pantai atau dataran rendah yang produktif di bawah level tertentu akan hilang. Pulau-pulau kecil yang rendah juga akan dihapus dari peta. Dataran rendah ini hilang karena muka air laut naik, bukan hanya karena digerus abrasi atau diambil pasirnya.
- Bila daratan yang hilang ini merupakan acuan dari ”pagar batas” suatu negeri, maka batas negeri itu bisa kembali menjadi persengketaan mengingat batas alamnya hilang. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia dengan batas laut yang kritis dengan beberapa negara, hilangnya sebuah pulau terluar bisa berakibat ribuan kilometer persegi wilayah kedaulatan laut baik itu laut teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif atau Landas Kontinen dapat tiba-tiba hilang.
- Perubahan sirkulasi plankton dan otomatis perubahan sebaran ikan yang pada akhirnya pada persediaan sumber pangan dari laut. Nasib jutaan nelayan atau petani tambak ada di ujung tanduk.
- Perubahan vegetasi. Daerah yang kini beriklim sedang akan menjadi lebih hangat sehingga dapat menanam tanaman tropis. Sementara itu daerah yang sekarang sudah hangat seperti di Indonesia, dapat berubah menjadi gurun!
- Perubahan pola penyakit, akibat beberapa virus atau bakteria yang dulu hanya ada di daerah tropis (seperti malaria, DBD dan sejenisnya) akan melanda daerah beriklim sedang. Bila para pekerja kesehatan di sana tidak akrab dengan penyakit tropis seperti itu, maka akan timbul pandemi yang sangat ganas.
Sumber Gas Rumah Kaca
Hingga
saat ini dua negara besar yaitu China dan Amerika Serikat menolak
meratifikasi protokol Kyoto, walau dengan alasan yang berbeda. China
berposisi bahwa aktivitas ekonominya masih jauh di bawah negara-negara
industri maju. Pengurangan CO2 berarti menutup kesempatan rakyat China
untuk menikmati standar hidup yang lebih baik. Sedang AS memang kurang
berminat menurunkan tingkat penggunaan energi fossilnya, terutama di
bidang transportasi. Namun isu yang saat ini beredar justru bahwa
sumber gas rumah kaca ini dunia Islam akibat pertumbuhan penduduk yang
tidak terkendali karena penolakan terhadap program Keluarga Berencana
(KB).
Faktanya,
selama ini AS adalah “juara” penghasil CO2, yaitu 39% dunia.
Negara-negara G-8 (AS, Jepang, Jerman, Canada, Inggris, Perancis, Italia
dan Rusia) total membuang CO2 68% dunia. Artinya, jumlah CO2 dari
seluruh negara lainnya, termasuk Indonesia dan China kurang dari 32%.
Selama
ini sektor yang paling banyak menghasilkan CO2 adalah energi (baik
untuk industri maupun transportasi). AS menghembuskan hampir 6500 Mega
Ton CO2-equivalen, di mana 95% dari sektor energi. Sebagai pembanding,
Indonesia hanya menghembuskan kurang dari 400 Mega Ton CO2-equivalen,
meski jumlah penduduk Indonesia sudah mendekati penduduk AS. Namun
karena di Indonesia sering terjadi kebakaran hutan, baik disengaja atau
tidak, Indonesia “menyumbang” CO2 sebanyak 3000 Mega Ton CO2-equivalen.
Negara-negara
maju anggota UNFCCC pada awalnya punya komitmen untuk membantu secara
finansial negara-negara berkembang dalam mengantisipasi dampak perubahan
iklim ini. Untuk itu negara-negara berkembang diwajibkan untuk
melakukan sejumlah hal seperti menjaga hutan-hutannya serta menyerahkan
data Greenhouse gas-inventory.
Namun
setelah sepuluh tahun Kyoto Protokol, negara-negara berkembang semakin
sadar bahwa ada faktor-faktor institusional yang sangat sulit diatasi,
yaitu: (1) negara-negara industri terdepan di dunia (dikenal dengan G-8)
sudah berada pada “zona nyaman”, sehingga malas untuk berubah; (2) di
dunia saat ini tidak ada skema ekonomi alternatif yang berskala global;
dan (3) PBB ternyata tidak punya kapasitas politik yang cukup.
Faktanya, politik PBB dan ekonomi dunia saat ini sangat ditentukan oleh
politik dan aktivitas korporasi Amerika Serikat – yang menolak
meratifikasi protokol Kyoto tadi.
Maka
semakin jelas bahwa untuk menyelamatkan planet ini dari kehancuran
ekologis, perlu paradigma dan sistem politik dan ekonomi global yang
baru. Sistem politik dan ekonomi kapitalistis-sekuler terbukti gagal.
Perlu ada sistem alternatif yang bersandar kepada Sang Pencipta Yang
Maha Tahu. Allah berfirman:
Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia, supaya
Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. 30: 41)
Sistem
alternatif bagi dunia yang sekaligus adalah sistem satu-satunya bagi
kaum muslimin itu adalah sistem pemerintahan Islam global (khilafah).
Syariat Islam yang diterapkan secara menyeluruh oleh khilafah akan
mengatasi masalah CO2 ini sejak dari akarnya. CO2 akan dikurangi dari
sisi demand maupun supply.
Dari
sisi demand: CO2 dihasilkan dari penggunaan energi konvensional (minya,
gas, batubara). Semakin materialis gaya hidup seseorang, makin banyak
energi dihabiskannya dan semakin banyak pula CO2 akan dibuangnya.
Dengan digantinya paradigma kebahagiaan dengan paradigma Islam, maka
sekaligus dua masalah teratasi: kebutuhan energi dan CO2. Bentuk
mengurangi demand ini bisa berupa penataan ruang baik makro maupun mikro
yang lebih baik, sehingga mengurangi kebutuhan energi untuk
transportasi, penerangan atau penyejuk udara. Secara teknologi,
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) juga dapat menekan
kebutuhan transportasi cukup signifikan, karena akan banyak hal dapat
dilakukan secara jarak jauh (misalnya tele-conference, tele-working,
dsb).
Sedang
dari sisi supply, penggunaan energi terbarukan seperti energi surya
dalam berbagai bentuknya (solar-cell, solar-farm, solar-tank), energi
angin (wind-farm), energi air (dari mikrohidro sampai PLTA), energi
ombak, energi suhu laut (Ocean-Thermal-Energi-Conversion, OTEC), pasang
surut, panas bumi (geothermal) hingga energi nuklir dapat membantu
menurunkan penggunaan energi konvensional, dan pada akhirnya
mengantisipasi pemanasan global.
Di
sisi lain, gerakan pelestarian hutan dan penanaman pohon harus
digalakkan, baik secara individual, korporasi maupun negara. Dalam 12
tahun (1991-2003), Indonesia sudah kehilangan 68 juta hektar hutan, atau
sekitar 10 hektar per menit! Bayangkan, hutan seluas 15x lapangan bola
lenyap setiap menit! Di level bawah, para aktivis dakwah perlu
mengingatkan ummat pada hadits Nabi yang berbunyi kira-kira, “Andaikan kiamat terjadi sore hari, di pagi hari seorang muslim tetap akan menanam sebuah pohon”, dan di hadits lain, “Andaikata buah pohon itu dinikmati oleh ulat atau burung, maka itu tetap terhitung sedekah dari yang menanamnya”. (Dr. Fahmi Amhar, Peneliti Utama Bakosurtanal)
Jumat, 20 Maret 2015
Teknologi Tepat Guna Zaman Khilafah
Bicara teknologi, sering orang terdikotomi – atau bahkan
terpolarisasi – pada pembagian teknologi “tepat guna” dan “teknologi
canggih”. Teknologi tepat guna sering dipahami sebagai teknologi yang
menyentuh kehidupan rakyat kecil yang merupakan mayoritas, dan dengan
mudah dapat diterapkan untuk menaikkan kualitas hidup.
Sedang teknologi canggih diasosiasikan sebagai teknologi yang
eksklusif, hanya mampu digunakan oleh orang-orang kaya, atau yang
berpendidikan tinggi. Penggunaan teknologi canggh juga tidak secara
signifikan menaikkan kualitas hidup, kecuali hanya menaikkan gengsi dari
penggunanya. Teknologi tepat guna juga secara umum dapat dibuat
sendiri oleh penduduk lokal dengan bahan-bahan lokal, sedang teknologi
canggih lebih sering masih harus diimpor.
Kincir air al-Jazari, teknologi tepat guna pada Masanya
Karena itu, teknologi tepat guna sering diasosiasikan dengan
teknologi untuk mendapatkan air, teknologi meningkatkan produksi
pertanian dan peternakan, teknologi energi yang murah, teknologi
kesehatan dan obat-obatan dari bahan-bahan yang tersedia dan murah, juga
teknologi transportasi yang tidak memerlukan teknologi tinggi.
Teknologi tinggi sering dicontohkan dengan teknologi informasi dan
komunikasi, serta teknologi hankam. Ini tidak menutup mata pada
eksistensi teknologi canggih di bidang pangan, energi, kesehatan dan
transportasi; atau juga teknologi tepat guna di bidang informasi,
komunikasi serta hankam.
Pada masa keemasan peradaban Islam, sebagian besar teknologi yang
berkembang berangkat dari kebutuhan mayoritas rakyat. Karena itu
mayoritas teknologi yang ada dapat disebut tepat guna.
Misalnya teknologi pangan. Di dunia pertanian muncul Al-Asma’i
(740-828 M) yang mengabadikan namanya sebagai ahli hewan ternak dengan
bukunya, seperti Kitab tentang Hewan Liar, Kitab tentang Kuda, kitab tentang Domba, dan Ābu Ḥanīfah Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896), sang pendiri ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang menulis Kitâb al-nabât
dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak dari “lahir” hingga
matinya. Dia juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk
pertanian, seperti soal posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai,
mata air. Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti
tentang batuan, pasir dan tipe-tipe tanah yang lebih cocok untuk tanaman
tertentu.
Pada abad 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn ‘Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab
ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara
lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya, menaikkannya ke
atas hingga meningkatkan kualitasnya. Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah
ini disebut “Nabatean Agriculture”.
Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air,
baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk
menjalankan mesin giling. Dengan mesin ini, setiap penggilingan di
Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.
Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja
otomatis. Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga
sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.
Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang
merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585
kultur mikrobiologi, 55 di antaranya tentang pohon buah. Buku ini
sangat berpengaruh di Eropa hingga abad-19.
Pada awal abad 13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia
mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental
dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi
hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.
Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada,
yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad. Kitab
itu memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat, yang
300 di antaranya penemuannya sendiri. Ibnu al-Baitar juga meneliti
anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai
istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya.
Ini adalah fakta-fakta yang terkait langsung dengan ilmu pertanian
dalam arti sempit. Namun revolusi pertanian yang sesungguhnya terjadi
dengan berbagai penemuan lain yang tergolong teknologi canggih.
Alat-alat untuk memprediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan,
teknologi irigasi, pemumpukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan
pasca panen, hingga manajemen perusahaan pertanian, semua tergolong
canggih pada masanya. Kombinasi sinergik dari semua teknologi ini
selalu menghasilkan akselerasi dan pada moment tertentu cukup besar
untuk disebut “revolusi pertanian Muslim”.
Revolusi ini menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang
sama. Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga
unsur: sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih, dan kajian
jenis-jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim, serta jumlah
air yang tersedia. Ini adalah cikal bakal “precission agriculture”,
suatu teknologi yang hingga abad-21 tetap terkesan “canggih”, karena
memang tidak semua orang mengerti. Orang merasa lebih mudah memberikan
pupuk buatan dan pestisida, karena hasilnya “jelas”, meski dalam jangka
panjang justru merugikan petani.
Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam,
sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif. Tanah
tidak lagi dimonopoli kaum feodal dan tak ada lagi petani yang merasa
dizalimi sehingga malas-malasan mengolah tanah. Negara juga menyebarkan
informasi teknologi pertanian sampai ke para petani di
pelosok-pelosok. Ternyata di samping teknologi tepat guna diperlukan
juga “hukum tepat guna” dan “negara tepat guna”.
Karena itu sebenarnya tidak perlu ada dikotomi teknologi tepat guna
dan teknologi canggih. Dilihat dari perspektif abad-21, semua teknologi
di zaman keemasan Islam dari abad-10 M sampai abad-19 M terlihat cukup
sederhana dan “tepat guna”, walaupun ada juga yang sudah kadaluwarsa.
Namun ternyata tetap ada sejumlah teknologi yang terasa “canggih’,
bahkan hingga hari ini. Kuncinya adalah kaidah fiqih: “Apa saja yang
mutlak diperlukan untuk memenuhi suatu kewajiban, maka hukumnya wajib
pula untuk diadakan.”. Jadi para ilmuwan Islam tempo dulu tidak terlalu
ambil pusing dengan dikotomi canggih atau tepat guna, tetapi apa yang
dipandang paling banyak memberi manfaat bagi umat. Kalau itu memang
perlu SDM yang mumpuni, itu sudah menjadi tanggung jawab mereka di
“negeri yang juga tepat guna”.
SEKOLAH ADIWIYATA
SMA N 2 Blora termasuk sekolah yang mendapatkan
penghargaan Sekolah Adiwiyata, yang tentunya merupakan kebanggan khususnya bagi
warga sekolah dan warga kabupaten Blora pada umumnya, namun untuk mewujudkannya
membutuhkan kerjasama dari semua elemen sekolah. Apa yang dimaksud adiwiyata
dan keuntungan yang diperoleh ketika berpartisipasi mengikuti
programnya....silahkan disimak......
Kata ADIWIYATA berasal dari 2 kata Sansekerta ”ADI”
dan ”WIYATA”. ADI mempunyai makna: besar, agung, baik, ideal
atau sempurna. WIYATA mempunyai makna: tempat dimana seseorang
mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Bila
kedua kata tersebut digabung, secara keseluruhan ADIWIYATA mempunyai
pengertian atau makna:Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh
segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar
manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita
pembangunan berkelanjutan.
Tujuan
Program Adiwiyata adalah
menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran
dan penyadaran warga sekolah, sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut
dapat turut bertanggungjawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup
dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan
utama Program Adiwiyata adalah mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan
berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.
Norma Dasar
Program Adiwiyata
Program dan kegiatan yang dikembangkan harus berdasarkan norma-norma dasar dan berkehidupan yang meliputi antara lain:Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran, Keadilan, dan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.
Program dan kegiatan yang dikembangkan harus berdasarkan norma-norma dasar dan berkehidupan yang meliputi antara lain:Kebersamaan, Keterbukaan, Kejujuran, Keadilan, dan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.
Prinsip-prinsip
Dasar Program Adiwiyata
Partisipatif:Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
Partisipatif:Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
Berkelanjutan:Seluruh kegiatan harus dilakukan
secara terencana dan terus menerus secara komprehensif
Keuntungan
mengikuti Program Adiwiyata
Keuntungan yang diperoleh sekolah dalam mengikuti Program Adiwiyata adalah:
Keuntungan yang diperoleh sekolah dalam mengikuti Program Adiwiyata adalah:
1. Meningkatkan efisiensi dalam
pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan penggunaan berbagai sumber daya.
2. Meningkatkan penghematan sumber dana
melalui pengurangan konsumsi berbagai sumber daya dan energi.
3. Meningkatkan kondisi belajar
mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi semua warga sekolah.
4. Menciptakan kondisi kebersamaan bagi
semua warga sekolah.
5. Meningkatkan upaya menghindari
berbagai resiko dampak lingkungan negatif dimasa yang akan datang.
6. Menjadi tempat pembelajaran bagi
generasi muda tentang nilai- nilai pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang baik dan benar.
7. Mendapat penghargaan Adiwiyata.
Sumber : di
ambil dari Buku Panduan Adiwiyata 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



